Judul: Lekra vs Manikebu Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950 - 1965
Penulis : Alexander Supartono
Buku Lekra vs Manikebu membahas salah satu babak paling penting dan panas dalam sejarah kebudayaan Indonesia, yakni pertarungan ideologis antara dua kubu seniman dan intelektual di era Orde Lama: Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan para pendukung Manifes Kebudayaan (Manikebu). Perdebatan ini tidak hanya berlangsung dalam bentuk tulisan dan diskusi, tetapi juga melibatkan tekanan politik dan konsekuensi sosial yang besar, terutama menjelang dan sesudah peristiwa 1965.
Lekra, yang berafiliasi erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), membawa semangat “politik sebagai panglima” dan menganjurkan konsep realisme sosialis, yakni seni harus berpihak pada rakyat, terutama kaum tani dan buruh. Sebaliknya, kelompok Manikebu menganut prinsip kebebasan berekspresi dan humanisme universal, menolak subordinasi seni terhadap politik.
Alexander Supartono menyusun buku ini dengan pendekatan analitis dan historis, menelusuri konteks sosial-politik di mana kedua kubu itu tumbuh. Ia membahas bagaimana Manifesto Kebudayaan ditolak secara keras oleh Lekra, yang menuduhnya sebagai representasi “kebudayaan borjuis dan pro-imperialis.” Sebaliknya, Manikebu mengkritik Lekra karena mempolitisasi seni dan mereduksi kebebasan artistik.
Buku ini menjadi penting karena tidak hanya menggambarkan perdebatan kebudayaan sebagai wacana intelektual, tetapi juga sebagai medan pertarungan kekuasaan dan ideologi di tengah pergolakan politik nasional. Dampaknya terasa hingga kini—baik dalam dunia kesenian, sejarah, maupun narasi politik Indonesia modern.
.
Download Ebook